Researching and Rediscovering Mathematics

Di semester 2 di NTU ini, saya diwajibkan (oleh program beasiswa saya) untuk melakukan research/penelitian. Pertama-tama, saya super senang. Euphoric. Sangat bahagia untuk bisa dapat kesempatan yang luar biasa ini.

Bidang riset saya adalah tentang coding theory. Secara singkat, teori ini membahas tentang bagaimana cara mengkodekan (encode) suatu pesan menjadi sinyal, sehingga katakanlah sinyal ini diganggu oleh noise, maka penerima akan tahu bahwa sinyal ini telah diganggu oleh noise. Bahkan, ada juga cara pengkodean, sehingga sinyal yang telah diganggu ini tetap bisa diterjemahkan (decode) menjadi pesan yang awalnya diinginkan.

Keliatannya kompleks? Ya, memang. Apalagi buat first year student seperti saya. Dasar yang dibutuhkan adalah aljabar abstrak (seperti group, ring, field *maaf ga tau bahasa indonesianya*) dan buat saya sebagai first year student, ya saya belom belajar lahh!

Catatan: Pengenalan pertama abstract algebra (group) itu pada semester 3, sedangkan Coding Theory itu sendiri diajarkan di NTU sebagai elective, tapi pada year 3/4. *mati*

Lah, ngapain ngambil ribet-ribet kalo gitu? Emang ga ada research lain apa?

Soalnya research yang lain itu gak menarik. Sebenernya saya pengen research game theory (awalnya), cuma professor yang ahli game theory-nya sedang benar-benar sibuk (banyak student di bawah dia), sehingga dia terpaksa menolak saya atau saya memang ditolak mentah-mentah. Jadi saya cari professor lain yang katanya senior juga bagus, jadi deh research coding theory. Professor lain di divisi Matematika sendiri kebanyakan researchnya tentang hal-hal yang lebih absurd lagi, jadi jauh-jauh deh. Coding theory saja sudah terdengar agak alien, meskipun keren. Mudah-mudahan level gaul gue naik satu.

Oke, kembali ke masalah, intinya, background saya sangat lemah di sini. Bisa dibilang, saya belajar benar-benar dari nol. Back to square one. Hampir sih, nggak bener-bener nol, soalnya ada beberapa hal yang bisa dianalogikan dengan pengalaman saya di olimpiade matematika.

Di sini, saya mulai dengan gak sabar, mencoba mencerna definisi-definisi baru. Definisi ini, mudah. Itu, mudah. Teorema ini, gampang. Iya, benar. Cepat sekali semuanya itu dibaca… Sampai stuck di satu teorema. Itu benar-benar bikin depresi. Ada teorema baru, tapi saya ga dapet feel-nya untuk teorema itu. Gak make sense rasanya. Buktinya juga sulit banget dipahami *lebay*. Rasanya saya benar-benar dibodoh-bodohin sama matematika ini.

Flashback dikit. Dulu, saya sempet ngajar, dan ngebantuin temen-temen yang lain. Sometimes, rada kesel juga kalau untuk ngajarin suatu cara untuk ngerjain soal. Paling gampang, permutasi-kombinasi deh. Itu kan benar-benar mikir, dan saya suka pusing 7 keliling untuk menjelaskan hal yang ini, karena emang ribet kalo ga dapet insight-nya. Dan sekarang saya disentak lagi. Kayak ditampar, cuma gak berbekas di pipi. Berbekas di hati. *galau*

Pada akhirnya, saya sadar kalau saya terlalu cepat; terlalu cepat melangkah ke teritori yang tak terjamah. Saya cuma membaca, tidak melakukan. Ini kesalahan fatal saya. Mathematics is not a spectator sport. You have to be involved in it. And I’ve been reduced to be a spectator, and only a spectator. Nothing more, nothing less. Ini fatal banget. Akibatnya, saya hilang di tengah jalan, entah ke mana. Karena saya gak dapet feel-nya. Kenapa gak dapet? Karena saya hanya membaca, tapi tidak terlibat. Dan saya sadar, saya harus menolkan diri saya dulu, sebelum masuk ke tempat yang baru ini.

Dan mulailah saya untuk menolkan diri. Semua definisi mulai dibaca perlahan-lahan tapi pasti. Kalimat demi kalimat, saya coba teliti. Saya mencoba untuk tidak mengabaikan hal-hal yang trivial, yang obvious. Saya tetap coba baca, saya lakukan sendiri kalau saya tidak yakin, dan mencoba kembali berlatih. Rasanya sudah lama banget saya gak latihan soal. Because I’ve been reduced to be a spectator and only a spectator. I feel grateful that I realized this soon.

Di sini, saya bisa bilang, research benar-benar bisa disebut research dalam kesempatan ini. Karena saya benar-benar mulai mencari ulang, apa itu matematika? This is what I called, researching and rediscovering mathematics.

Ketika saya mulai latihan dan mengerjakan soal-soal di bidang baru ini, saya merasa kalau saya memang belom dapet feel-nya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, saya dapat pencerahan, sehingga soal-soal di bidang yang baru ini (abstract algebra) dapat saya selesaikan.

Saya teringat blog post dari Terrence Tao. Buat yang nggak tau, Terrence Tao itu peraih medali emas termuda di IMO, pada umur 13 tahun, di IMO 1988, Australia. Sekarang beliau menjadi professor di UCLA, California. Beliau bilang, kalau pembelajaran matematika itu bisa dibagi menjadi 3 fase:

  1. Fase pre-rigorous. Ini artinya, pembelajaran matematika tidak didasarkan pada definisi formal dan bukti-bukti yang rigorous, tapi lebih ditekankan pada intuisi.
  2. Fase rigorous. Di mana, seorang student di-expect untuk belajar matematika dengan definisi-definisi formal, dan bukti-bukti. Kebanyakan, peralihan dari fase 1 ke fase 2 adalah yang berat bagi para student.
  3. Fase post-rigorous. Di mana seseorang sudah dilengkapi dengan definisi rigorous dan bukti-bukti, dan berusaha untuk meng-improve intuisi yang didapat di fase pre-rigorous. Biasanya fase ini yang bisa dapat insight-insight bagus dalam mengerjakan soal.

Dalam matematika olimpiade, bolehlah dibilang saya sudah sampai fase tiga, karena olimpiade memang butuh insight-insight yang seperti itu, dan juga karena definisi-definisi dan teorema-nya tidak terlalu berat =)). Makanya, saya jadi besar kepala ketika masuk ke dalam bidang yang baru, karena saya menyangka saya sudah sampai fase 3 juga. Saya merasa bisa mendapatkan intuisi untuk mengerjakan soal, padahal fase 0 saja belum lewat. Seperti yang saya bilang, ini benar-benar ajaran yang baik untuk saya.

Bisa diambil kesimpulan, selalu ingat kalau kita harus mulai dari 0 pada awalnya. Tidak bisa kita mulai dari 1, 2, 3, atau bahkan 10^{101}. Harus dari 0. Kita semua harus humble dalam memulai sesuatu. Terutama saya.

Jadi, gimana rasanya ditampar di hati?

PS: Kemarin saya baru ketemu professor saya, untungnya so far so good. Dan karena kebiasaan saya mumbling “eto…” (bahasa Jepang, artinya kurang lebih ’let’s see’, iya bukan sih?) ketika lagi mikir, si professor nyangka saya bisa bahasa Jepang. Bisa kok, kalo cuma baka baka baka doang saya bisa. Konichiwa, und arigatou!

(versi tl;dr: FREAK LU, WANGSA!)

6 thoughts on “Researching and Rediscovering Mathematics

  1. Nyasar kesini karena trackback Terrence Tao. Baca Terrence Tao karena ngikuti link diskusi di OSN Matematika facebook :) .

    BTW stucknya di teorema apa? Saya juga researchnya di coding theory, tapi cuma seputar MacWilliams equivalence theorem yg dicoba diperumum untuk non-hamming distance dan di Ring dan jauh dari unsur-unsur terapan.

    Kamu research coding theory nya tentang apa?

    • Justru aku belom masuk coding theory nya, Pak Barra. Aku masih di abstract algebra. Tapi arahnya udah mau jelas, mungkin masuk ke generalized quaternion algebra, tapi ini masih tergantung professornya sih. Nanti kalo sudah jelas saya research apa, nanti saya update lagi di blog ini :D

  2. dan ketika lo dikasi buku yang aplikatif, pokoknya lo harus ngikutin metode ini metode itu, lo mau pingsan. gw sampai sekarang susah nangkep kalo belajar ga dari definisi. well, pikiran jadi terlalu liar karena gak di-restrict. apalagi pelajaran berbau2 teknik2 digital gitu. *curcol *galau

    • kalo metode ini itu, rasanya pusing juga ya. kalo soal definisi, gue lebih suka dapet intuisinya dulu, baru belajar definisi rigournya. kalo gue dikasih definisi rigournya, gue langsung: WHAT THE FUCK IS THIS SHIT?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s